Galery Sejarah Medan City dalam Angan



Aku GERAM
---------------------------
Berulang Kali ke Negeri itu,
Berulang x pula aq kerap merasakan hatiku bergetar
Bukan karena ku jatuh cinta namun karena ku merasa betapa Pemerintah mereka Peduli, Sadar, Responsif & Menangkap Peluang Menghasilkan Income Bagi Negerinya
.
Sejarah Negeri Mereka begitu tertata, membuat siapapun yang hadir akan berdecak kagum dan tentunya menyebarkan informasi ke dunia luar melalui SELFIE
.
Cukup hadir ke 1 Gedung yang diinisiasi perseorangan kemudian di support oleh Pemerintah kita akan tau seperti apa negeri itu;
Jumlah Penduduk, Potensi, Visi, Misi Mereka, Berapa Wisatawan yang hadir, Mengapa Negeri mereka disebut Truly Asia (Foto 1)
.
Mungkin orang menganggap saya Menghayal & tidak pantas mensejajarkan kota Medan dengan negeri itu alias Tidak Apple to Apple
.
Tak perlu pusing, Sejajarkan saja dengan kota di sekitaran negeri itu. Maka jelas posisinya kota Medan adalah kota...... (Silahkan diisi sendiri)
.
Kita ambil contoh kecil saja (Foto 2),

Sebuah Gedung yang berada di selurusan Gedung Lonsum yang dulunya merupakan Mall Pertama di Kota Medan
Lihatlah kondisinya kini, sebuah Aset Kota dikuasai Kalangan Tertentu yang terkesan tak tertata penuh dengan Atribut OKP
.
Sebuah Gedung yang jika semua berbesar hati,
Walikotanya Paham akan kebutuhan Masyarakat & Semua menyatukan kekuatan untuk membangun wadah pembelajaran, pengenalan, penumbuhan kecintaan terhadap kota maka Gedung itu akan sangat cocok menjadi Pusat Edukasi Kota Medan
.
Takpe la...
Jangan berkecil Hati jika kota Medan belum memiliki gedung Pusat Edukasi Kota.
------
Do'akan kami,
Kelak akan mendirikan Pusat Edukasi Kota Medan
Yang dapat diakses oleh semua kalangan
Diawali dengan membangun Identity kota Medan sebagai City of Trader melalui MOWIEE (Mobil Wisata Edukasi Entrepreneurship)
Dapatkan semua informasi perihal kota Medan dari para pecinta kota Medan melalui @mowiee (Foto 3)

Info:
Mowiee dapat diakses Free bagi adik-adik dari Panti Asuhan, Yatim Piatu & Sahabat Istimewa (Difable)

Sikap Seorang Wirausaha kepada Wirausaha lainnya


Sebagai seorang entrepreneur berkecimpung di dunia sociopreneur hal utama yang harus dilakukan adalah saling mendukung usaha para sahabat
-
Dukungan utama yang bisa dilakukan bersama banyak sekali diantaranya bisa dalam bentuk:
1. Memberikan Link & Informasi
2. Mengabarkan kepada orang lain melalui media sosial, offline berupa MLM (mulut lewat mulut)
3. Membeli produk, Menggunakan kemudian memberi testimoni
4. Tidak Berhutang alias bayar Cash!
5. Buanyak lagi.....
-
Bagi para sahabat, mana nich yang dipilih? ðŸ˜Š
-
Note;
Di foto, Saya lagi menikmati panganan sehat Berry Beri Smoothie Bowl dari @greensmoothiefactory 
----
Selamat atas Grand Opening @greensmoothiefactory Medan 
----
Rasane wenak poll, Bikin ketagihan ðŸ¤—

#makanansehat #smoothiesbowl #kawanawen#dukungwirausaha #medancityoftrader

Sikap Terhadap Kursi Kepemimpinan


Kita tidak perlu takut dan antipati terhadap kursi kepemimpinan

JIKA....
kita berniat Lurus memperbaiki keadaan, melakukan perubahan, kebermanfaatan, meraih keberkahan bersama

BUKAN....
Bertujuan menjadi RAJA yang kerap ingin dilayani

Niat itu Utama


Ketika kita menyanggupi permintaan orang-orang baik tuk turun ke ranah politik
.
Maka kita harus bersiap dengan segala konsekwensinya
.
Yakinlah...
Selama niat kita lurus senantiasa ada jalan tuk memberikan nuansa baru pertumbuhan, kebermanfaatan, keselarasan bagi hajat khalayak
.

Medan City Of Trader

Antara Cicak dan Laba-laba

Copas dari grup sebelah 🙏

Cicak dan laba-laba

Bacaan ringan untuk para pengusaha muda 😆

Analogi sederhana,

Cicak = cari makan tiap hari, perut kenyang berhenti, lapar ya cari makan lagi, ya begitu setiap hari sampai mati.

Laba laba = membangun jaring, walau tidur makanannya datang sendiri, makanan bisa disimpan di jaringnya, jika Jaringnya penuh makanan, tinggal buat jaring yang baru.

kisah cicak dan laba-laba tersebut sama halnya dengan pekerjaan manusia.

Cicak menggambarkan orang-orang yang masuk dalam kelompok pekerja keras, yang diantaranya employee dan self-employee. Contohnya adalah pegawai, dokter, konsultan, pengacara, tukang ojeg, pekerja kasar, supir taksi, dll.

Sedangkan laba-laba menggambarkan orang-orang yang masuk dalam kelompok pekerja cerdas, yang di antaranya business owner (pengusaha) dan investor.

Para pekerja keras akan mendapat hasil setiap mereka bekerja. Jika mereka berhenti bekerja otomatis mereka kehilangan penghasilan.

Berbeda dengan pekerja cerdas. Pertama yang akan mereka lakukan adalah membangun aset. Walau aset yang mereka bangun membutuhkan waktu yang lama, bahkan kadang mereka tidak mendapat penghasilan ketika membangun aset. Tetapi ketika aset yang dibangun tersebut sudah terbentuk, mereka tak perlu bekerja lagi untuk mendapatkan penghasilan.

Pekerja keras pun tak bisa mewariskan pekerjan mereka kepada anak-anaknya. Jadi anak-anak mereka harus bekerja dari nol untuk mendapat penghasilan. Sedangkan pekerja cerdas akan mewariskan anak-anaknya berupa aset yang terus menghasilkan selama aset tersebut masih terbentuk. Jadi anak-anak mereka tak perlu bekerja dari bawah lagi untuk mendapat penghasilan.

Jadi pekerja harus bekerja sampai mati untuk bisa bertahan hidup. Sedangkan para pekerja cerdas akan sulit di awal, bekerja keras di awal, dan ketika aset telah jadi, mereka bisa bersantai-santai selama mereka mau tanpa mengurangi penghasilan mereka.

Mau jadi cicak atau laba laba ? 😊

Yuk bangun aset bersama2 😊

Tips Menilai Kualitas Seorang Coach


ada point' menarik sharing dari abangda Donny Kris yakni;
Ngajarin bisnis besar tapi bisnisnya sendiri tidak besar
Ngajarin kaya tapi belum pernah kaya
-
Malah jangan-jangan pendapatan kayanya dari jualan seminar menjadi kaya
-
Jadi klo ikut pelatihan bisnis
Coba calculate:
1. Pendapatan trainer
2. Skala bisnisnya
3. Isi materinya kosong atau berisi?

Coach Bisnis apakah harus punya Bisnis?

Coach bisnis itu memang harus punya bisnis ya kak..??

Coach adalah seorang guru, guru yang baik ia memiliki pengalaman dan pengalamannya itulah di share kepada orang lain
-
Pengalaman seperti apa?
Pengalaman keberhasilan dalam usahanya, proses menjalaninya, jatuh bangunnya, keteguhan, konsistensinya dalam usaha, dsb
-
Intinya experience!
-
Apakah klo ia tidak memiliki usaha bisa disebut sebagai coach/guru?
Bisa dunk tidak ada yang tidak bisa
-
Hanya saja beda nya balik ke penilaian masing-masing
-
Apakah ia coach yang BAIK atau tidak

Nah....
Pertanyaan intinya adalah:
Apakah jika dia tidak punya bisnis kemudian tidak boleh mengajarkan tentang bisnis
-
Perumpaannya dengan orang yang menjadi psikolog harus stress dl
Atau guru yang mengajarkan tentang kematian harus mati dulu?

Yang dipaparkan mbak Nadeak itu 2 konteks yang berbeda
2 contoh yang berbeda
Dalam berwirausaha yang dipelajari bukan hanya system, proses usaha, pola menjalani saja namun ada yang paling mendasar dan itu menjadi pondasi dalam berwirausaha yakni SPIRIT
-
Semangat berwirausaha yang takkan mampu diajarkan kepada seorang wirausaha jika yang mengajarkan BUKAN seorang Wirausaha (non expert)
-
Cthnya:
Ketika memulai usaha yang tak serta merta langsung laris, langsung menghasilkan
Jika seorang wirausaha akan berkemampuan berbagi apa yang ia lakukan ketika berada pada proses itu
Jika non wirausaha akan mengatakan sabar ya semua ada waktunya 😄

Dan coach yang tidak memiliki usaha perlu dipertanyakan pula kemampuannya ketika ia sendiri tidak mampu meyakinkan diri untuk memulai berwirausaha ATAU para wirausaha yang ketika ia gagal dalam berwirausaha kemudian banting stir menjadi pembicara dan menyatakan dirinya telah sukses
--
Kita bisa koq menilai mana coach yang baik untuk kita dan coach yang perlu membangun spirit ia sendiri terlebih dahulu
-
So...
Jangan buang waktu tuk menerima dari bukan expert nya
-
Sayangi waktu, sayangi uang kita, temukan orang yang tepat tuk membantu kita menaiki tangga kesuksesan

3 Perisai dalam Usaha

Jika dilihat pada gambar maka ada 3 perisai dalam usaha:
1. Misi
2. Team
3. Leadership
--
Bicara misi dalam berwirausaha haruslah berakar pada visi
Visi merupakan sebuah gambar besar tentang usaha kita beberapa tahun kedepannya (biasanya 5 hingga 10thn)
Misi sendiri merupakan langkah konkrit, step by step untuk mencapai visi itu sendiri
Kemudian dari misi dituangkan dalam program kerja, target usaha, sop dkk

Untuk menggapai percepatan dlm misi dibutuhkan team
Banyak yg menganggap team adalah karyawan, orang yang di gaji hingga bawahan

Namun yang baik adalah menganggap team sebagai keluarga agar muncul sebuah ikatan rasa yakni rasa memiliki

Sebuah hubungan yang tidak hanya sebatas yg menggaji dengan yang di gaji

Untuk menggerakkan team dibutuhkan sebuah kemampuan memimpin

Kemampuan menggerakkan orang lain
Untuk bersama menggapai tujuan tadi yakni visi bersama

Karakter leadership masing-masing orang berbeda gak sama

Diantara karakter yang baik itu tidak merasa sebagai bos alias bossy 😊

Memberi contoh bukan perintah, memberi arahan bukan menunjuk

Pemimpin sejati senantiasa dirindukan 😊
Leadership utama yg dibangun tidak hanya pada team tp diri sendiri

Krn seorang wirausaha adalah kapten diatas kapal

Klo kaptennya sakit biasanya seisi kapal akan sakit

Jika kaptennya tidak semangat gak tentu arah maka teamnya jg mengalami hal yang sama

Pas sekali apa yang dikatakan bg @⁨aulia arfan⁩
Produk hanyalah bagian kecil dari membangun bisnis itu sendiri

Sebab tidak selalu seorang wirausaha memiliki produk tapi bisa memiliki jasa spt pemasaran, packaging dll

Yang penting tidak cuma bawa proposal dari 1 instansi ke instansi lain 🤣

Jika kembali pada skema maka kita akan melihat,
Ada kotak teratas yg disebut produk kemudian disusul dengan legalitas usaha

Produk yg baik selain halal, tak diragukan, tidak mengandung unsur penipuan maka akan lebih baik jika beriring dengan perizinan

Klo ukm sekarang kan lebih mudah tu pengurusannya spt pemaparan bapak diskop kemarin

Untuk membuat PT pun bagi UKM sudah sangat dipermudah

Semoga kedepannya UKM lebih dimudahkan dan dipercepat dalam pengurusan haki, merk dkk

Next step ada yang disebut dengan system'
-
Ini merupakan bagian penting dalam keberlanjutan suatu usaha karena dalam systemlah tersusun rapi proses input hingga output
Proses income hingga outcome
Yang jika disusun dalam 1 Bundelan dan dapat di copy paste maka terbentuklah usaha yang sama

System' inilah yang kemudian sering kita kenal sebagai usaha yang di jual alias franchise
-
Sistemnya lah yang dijual
-
Ngomong2 franchise be care full ya, ada syarat mutlak klo mau jualan franchise yakni:
Bisnis yang telah terbukti sukses, dengan masa usaha minimal 5thn diikuti dengan kelengkapan perizinan

Apa yang membuat perisai tadi bisa berjalan dan pada akhirnya menghasilkan cash flow positif?
Point' nya ada di komunikasi bisnis
-
Komunikasi pada calon customer, customer, team, supplier dll
Berkomunikasi pada calon customer tentu beda dengan customer
-
Calon belum beli, customer sudah beli
-
Lebih mudah menjaring customer baru drpd membuat customer tetap bertahan
Sehingga komunikasinya jelas berbeda
-
Tawar menawar pada supplier jg ada tehniknya
-
Pada team jelas beda lagi
-
Pada akhirnya berkomunikasi dengan siapapun tujuannya jelas
Produk terjual, income bertambah, supplier kasi harga terbaik dan tentunya visi besar kita tercapai

Point' di bawah komunikasi bisnis itu sendiri adalah cash flow
Yang pada dasarnya merupakan sesuatu yg penting sekali,

tanpa cash flow gak bisa jalan tu usaha
Team tidak tergaji, supplier tidak terbayar, bahan baku bisa menumpuk.

So...
Penting sekali membangun perisai usaha dan berfokus pada pilar yang ada

Skema di atas akan dapat lebih mudah kita pahami ketika digandeng dengan metode bisnis canvas ataupun SBM 😊

Maaf bukan bermaksud menggurui hanya sekedar berbagi untuk bersama kita bergandengan tangan berjalan beriringan demi memajukan perekonomian negeri 🙏

Esteem Economy", Ketika Setiap Orang Haus Pengakuan

Benar juga ya! Ini gejala ekonomi shifting lainnya.

*"*
Esteem Economy", Ketika Setiap Orang Haus Pengakuan
*"*

Rhenald Kasali (Kompas.Com)
Senin, 20 November 2017 | 06:30 WIB

(14/11/2017).
Iseng-iseng saya bertanya pada ibu-ibu peserta seminar dan pelatihan “Marketing in Disruption” di Rumah Perubahan: “Pernah selfie dan tayangkan fotonya di Facebook dan Instagram?”

“Sering” jawab mereka.

Lalu apa yang dirasakan kalau sejam tak ada yang kasih jempol, “like,” atau “share”?
Tiba-tiba ibu-ibu tadi gelisah, tapi cuma sebentar, lalu tertawa riang. Menertawakan diri sendiri.

Seorang pria menjawab, “Saya yang disuruh kirim ‘like’ ke istri. Setelah diberi ‘like,’ dia nyenyak tidurnya. Kalau tidak, gelisah.”

Advertisement
Begitulah Esteem Economy. Manusia gelisah, bukan karena hal-hal riil seperti generasi sebelumnya, yang dibesarkan di lapangan nyata, dengan bermain ayunan, bola kasti dan gobak sodor. Ah benar-benar jadul. “Manusia baru” atau kids zaman now yang hari-hari ini mengisi perekonomian kita adalah manusia cyber.

Seperti yang ditulis oleh pioner Cyberpsychologyst Marry Aiken, “ketika menapakkan kaki ke semak-semak belukar, intuisi manusia langsung mengatakan: “Awas ular.” Tetapi di dunia cyber, kita belum punya intuisinya.

Manusia cyber mempunyai cara sendiri dalam memenuhi rasa aman (safety needs) dan self esteem yang kita pelajari sebagai Maslow Hierarchy of Needs. Dan foto-foto diri, komplain-komplain kecil, share tentang sesuatu adalah objeknya.

Leisure Tanpa Tekanan, Esteem Sebaliknya

Benarkah manusia mencari “leisure” dengan berekreasi? Sepertinya, leisure yang kita kenal di abad 21 benar-benar berbeda. Leisure yang dulu, digambarkan sebagai “menikmati waktu hidup dan berekreasi“ kini berubah.

Para pekerja di Prancis dan Italia di akhir abad 20 menikmati leisure economy. Pukul 15.30 mereka sudah kongkow-kongkow menikmati happy hour di bar. Maka, begitu pemerintah berencana menambah 30 menit saja waktu kerja per hari, mereka pun melawan dengan demo besar dan sedikit kerusuhan.

Saya pun jadi ragu kalau akhir pekan ratusan ribu mobil bergerak dari Jakarta ke arah Bandung untuk leisure. Macetnya bisa 4-6 jam. Di Yogyakarta, mobil-mobil yang bergerak mencari rumah makan termasuk ke Mie Jawa yang terletak di “kandang sapine mbah Gito” sepertinya juga bukan untuk leisure.

Warung Bakmi Jowo Mbah Gito di Kelurahan Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta.
Butuh satu-dua jam karena macet. Antre makannya satu-dua jam lagi. Di kaleng-kaleng kerupuknya tertulis kata ini: “sabar.”

Abad 19 kita mengenal leisure class (Veblen, 1899), lalu di abad 20 menjadi experience economy (Joseph Pine & Gilmore, 1998). Tetapi kini disebut esteem economy, kumpulan dari manusia-manusia yang rindu pengakuan bahwa dia sudah sampai di sana.

Skylodge di Tebing Parang atau Selfie di Ponggok

Di usia 20-an, saya gemar mendaki gunung. Maka berita tentang hotel gantung di Tebing Parang sungguh menggoda. Namun begitu melihat cara menjangkaunya, saya harus tahu diri.

Berita dan foto-foto tentang hotel gantung ini menjadi viral di jagat dunia maya. Persis seperti foto-foto tentang padang bunga di Gunung Kidul yang pernah viral.

Tiap generasi punya needs yang berbeda. Generasi saya butuh “leisure,” sedangkan  millennials butuh esteem. Mereka mencari share, “like” atau jempol karena difasilitasi medsos.
Ini persis dengan yang dilakukan sebuah rumah makan tak jauh dari Rumah Perubahan.

Makanannya biasa saja. Tetapi, tak henti-hentinya ibu-ibu muda berdatangan. Rupanya di situ ada foto bangunan besar 3 dimensi. Mereka bisa bergaya melayang seakan-akan tengah berada di atas gedung. Jadilah itu tempat selfie.

Ini cerita lain lagi. Di sebuah meja kerja di suatu kantor duduk seorang pegawai perempuan. Wajahnya bete sekali. Seharian tak mendapatkan “like” atau share dari foto-foto yang diunggahnya. Ia pun  merapihkan meja dan menambah secangkir kopi panas yang asapnya mengepul. Lalu foto diunggah di Facebook dengan caption: Good Morning ….kerja semangat! 

Wajahnya berubah sumringah ketika satu-persatu likes berdatangan. Temannya di seberang sana memberi “likes,” padahal mereka tengah duduk berempat di meja makan sebuah restoran mahal.

Hotel gantung Padjajaran Anyar yang terletak di tebing Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Barat setinggi 500 meter difoto menggunakan drone, Minggu (19/11/2017). Hotel gantung ini diklaim sebagai hotel gantung tertinggi di dunia mengalahkan ketinggian hotel gantung di Peru. 
Namun keempatnya juga tengah mencari esteem dengan membuka gadget mereka masing-masing. Pelayan restoran datang menanyakan pesanan. Mereka lalu bersama-sama mengucapkan kalimat ini, “foto dulu ya!”

Pelayanpun mengambil ponsel mereka. Semua minta foto pakai ponsel masing-masing. Jadi fotonya empat kali. Selesai difoto, mereka pesan makanan, lalu kembali membuka gadget, upload, mencari esteem lagi.

Di desa Ponggok, Klaten, ada proyek dana desa yang berhasil, berupa desa wisata. Sebuah embung besar mereka bersihkan menjadi umbul untuk selfie di dalam air.

Pengunjung pun berebut datang melakukan selfie di atas sepeda motor, bermain ayunan, pura-pura tengah bekerja atau berkemah di dalam air. Alhasil, dari dana desa Rp 300 juta (2015), BUMDES desa berpenduduk 2.300 jiwa ini tahun ini akan meraih pendapatan Rp 15 miliar.

Untuk apa bersusah payah menahan napas di dalam air? Anda tahu jawabannya.

Esteem Economy

Mendalami motif manusia memenuhi kebutuhannya penting untuk memahami proses shifting perekonomian. Dunia benar-benar disruptif. Motif memenuhi kebutuhan itu bergeser di peradaban cyber. Manusia beradaptasi, bertahan dan berevolusi dengan motif pemenuhan kebutuhan tadi.

Ditenggarai oleh kemampuan bersembunyi (anonymity), dunia online seakan mampu memberikan rasa aman (safety needs) bagi sebagian orang yang pemalu dan takut-takut dalam interaksi tatap muka. Manusia bisa “mengambil foto” milik orang lain, mencuri atau mengedit jati dirinya.

Orang-orang yang memiliki “kelainan” di dunia riil, atau yang gemar menyebar fitnah ternyata sosoknya tak semenakutkan tulisannya. Bahkan belum lama ini Ditreskrim Polri mengumumkan sebagian besar adalah penakut yang jarang bergaul. Tetapi di dunia cyber, dengan anonymitas itu bisa membuat mereka merasa nyaman dan berani berkomunikasi.

Tetapi baiklah kita kembali ke esteem economy. Dengan bergabung dalam komunitas online, kini manusia bisa merasakan ”a sense of belonging.” Kata Aiken, “mendapatkan ‘liked’di Facebook adalah wujud dari memenuhi needs for esteem.

Tombol Like Facebook
Bukan hanya itu. Mereka juga bawel cari perhatian terhadap soal-soal kecil. Mulai dari soal toilet, sampai taksi yang tak datang-datang saat hujan deras, pun dijadikan tulisan pendek, sekedar komplain untuk mendapatkan esteem.

Dengan menyebarkan berita buruk atau copas-copas tanpa memeriksa kebenarannya, manusia yang belum matang juga ingin mendapatkan pengakuan bahwa ia lebih pandai atau tahu lebih dulu dari yang lain.

Pusingkan? Begitulah esteem economy. Manusia selalu mencari cara untuk mendapatkan pengakuan berupa share, like dan jempol.  Bukan es krim.

Sumber:
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/20/063000526/-esteem-economy-ketika-setiap-orang-haus-pengakuan

SAHABAT PERJALANAN




Dalam perjalanan,
kita akan bertemu dengan
Orang-orang yang menghargai dan tidak menghargai mimpi kita
Orang yang mendukung dan tidak mendukung perjuangan kita
--
Tak sedikit yang menertawakan
Tak pula banyak yang memberi sokongan
---
Kunci pencapaian itu ada di tangan kita
----
Tangan yang selalu di arahkan tuk menengadah pada IA yang maha dalam segala yakni Allah SWT
-
Diri yang selalu berfokus dalam usaha & mengabaikan cibiran, cemoohan
-----
You must know something
You are the best!!!
-
Terimakasih dari lubuk hati terdalam tuk para sahabat yang senantiasa mendukung perjalanan ini

KELATAHAN PERTANDA TUA MELANDA






Tak jarang dalam keseharian kita melihat orang-orang melakukan berbagai hal namun bukanlah ia yang menerima ucapan terimakasih bahkan tak jarang mereka pun tak mendapatkan bayaran berupa senyuman.
dalam keseharian kita kerap melihat orang-orang yang melakukan pengorbanan namun diatas podium berdiri wajah asing yang berkoar laksana pahlawan india.
ketika engkau mengalami hal seperti itu TERSENYUMLAH & PAHAMILAH bahwa TUHAN tidak pernah tidur dan tak pernah khilaf meminta malaikat menorehkan pahala pada kertas amalmu 

KUNCI HATI DALAM BERWIRAUSAHA






Apa yang harus dikedepankan dalam berwirausaha?
Berbagi Kebermanfaatan dan Mencari Keberkahan
---
Banyak namun tidak berkah maka akan sia-sia
Yang Kita butuhkan bukanlah banyaknya melainkan CUKUP nya
---
Mintalah selalu akan rasa CUKUP Dan Allah Cukupkan hidup Kita untuk BerkeCukupan 😊
-----
Mintalah selalu akan hidup yang bermanfaat kelak ketika Masa Kita kembali Kita mampu menjawab kemana saja Kita gunakan rezeki yang Allah beri

PERBANDINGAN NASIB SEPEDA DI NEGERI SENDIRI DENGAN NEGERI ORANG LAIN







Di China hampir di setiap sudut jalan terdapat sepeda yang dapat di sewa dan ada pula yang dapat digunakan secara cuma-cuma
Tidak perlu pegawai yang menjaga sepeda cukup dengan mendownload aplikasi dan melakukan payment via mobile
--
Di Singapore juga melakukan hal yang sama
Sepeda dapat di sewa per 30 menit dengan tarif $1, jika telah menggunakan sepeda dapat diletakkan di pinggir jalan dan akan ada petugas yang mengambil ataupun dapat disewa oleh pengguna lainnya
----
Masi penasaran klo diterapkan di Indonesia, terutama kota Medan
Masi ada gak ya abis diletakkan?
He...he..
---
Teringat masa kuliah dulu sepeda kuning berjulukan Golkar titip tempat kawan kena gaskan tak bersisa 😂
Leong.... Dia

EFEK SERING TRAVELING





Pada umumnya,
Semakin sering memijakkan kaki di luar tanah kelahiran
Semakin menyadarkan seorang manusia jika ia begitu kecil
----
Ndak Ado apo-opo nyo 😂
— di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur.

PINTU - PINTU KEBAJIKAN







Pintu menuju kebajikan tidak hanya 1 di dunia ini,
Begitu banyak pintu yang dapat kita tapaki,
Tinggal ingin atau tidaknya kita melangkah,
Jangan berputus asa...
"Sesungguhnya kita tidak akan pernah lulus ujian hidup, Jika kita tidak pernah ikut ujian".
untuk mengikuti ujian terdapat berbagai persyaratan, Salah satunya istiqomah, konsistensi dan penuh kesabaran.
#tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini
---
Merchandise perusahaan dan personal ingat Narsis Digital Printing

TRAVELING TAK SEKEDAR TRAVELING







Berpetualang lah....
Temukan peluang yang dapat membuka jalan bagimu tuk berkontribusi membangun negeri
--
Meringankan beban orang disekitarmu
Lihatlah dari hal kecil yang kerap terabaikan
Teruslah belajar dan belajar
---
pada masanya....
kita akan menemukan value dari sebuah perjalanan itu sendiri
------
Pic:
Amati harga yang tertera bandingkan dengan harga di negeri kita

TEAM ARE FAMILY


Team dalam usaha adalah keluarga kita
Kebersamaan dengan keluarga memberikan semangat baru dan kedekatan tersendiri
-
Bisa jadi team kita tidak sedarah
Bahkan awalnya tidak saling kenal
Namun dibersatukan dalam ikatan usaha
-
Kebersamaan dalam team haruslah dibangun
Laksana tiang penyangga rumah yang saling berkait satu dengan lainnya
-
Do'akan kami tuk dapat selalu berkontribusi bagi negeri dan membahagiakan keluarga
---
Sebuah target dan rencana bersama
Awal tahun mendatang lokasi family day kita geser ke negeri seberang 😂
-----
Semangat!!!! Semangat!!!!!

DIKIT CAKAP BANYAK KERJA



Banyak cara menuju Roma
Salah satunya dengan bersikap bijak
"Dikit cakap Banyak kerja"
Kerja dengan konsisten, penuh komitmen kumpulin pundi - pundi beriring dengan pola hidup sederhana
Setelah terkumpul, kita bisa beli tiket ke Roma dan melakukan perjalanan

LANGKAH MENUJU JALAN SUKSES






Tak sedikit yang ingin menikmati kesuksesan namun enggan menikmati proses dari sukses itu sendiri
---
Nalar instanisasi mengakrabi jiwa yang ingin dinyatakan sebagai pribadi sukses
----
Abaikan instanisasi
Sebab tiada hasil tanpa usaha
Tiada keberhasilan tanpa perjuangan
------
Mulailah melangkah,
Abaikan ketakutanmu akan kegagalan
-
Lakukan langkah pertamamu,
Terus melangkah dan melangkah
Sebab berhenti bermakna mati
----

Reaksi dan Respon


Ukm.id:
REAKSI vs RESPONS
CEO Google, Sundar Pichai mulai banyak dikenal orang setelah menjabat pimpinan tertinggi raksasa perusahaan Google. Pichai terlahir di Tamil Nadu, India pada tahun 1972. Pichai dikenal oleh karyawan Google sebagai seseorang yang selalu berhasil merealisasikan rencana menjadi kenyataan. Beberapa proyek dia yang sukses yakni browser Chrome dan Android
Sundar Pichai memang dikenal sebagai orang yang ramah, cerdas, dan pekerja keras. Ada sebuah kisah inspiratif dari pidato oleh Sundar Pichai kepada anak buahnya mengenai Kisah inspiratif dibalik kecoa yang bagi sebagian orang menjijikkan.
Begini ceritanya, di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suatu tempat dan mendarat di seorang wanita.
Wanita itu mulai berteriak ketakutan.
Dengan wajah yang panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha keras untuk menyingkirkan kecoa tersebut.
Reaksinya menular, karena semua orang di kelompoknya juga menjadi panik.
Wanita itu akhirnya berhasil mendorong kecoa tersebut pergi tapi … kecoa itu mendarat di pundak wanita lain dalam kelompok, dan begitu seterusnya.
Melihat keadaan yang tambah kacau, seorang pelayan wanita memutuskan untuk berbuat sesuatu ketika kecoa itu hinggap di kemejanya.
Pelayan wanita itu berdiri kokoh, menenangkan diri dan mengamati perilaku kecoa yang hinggap di kemejanya.
Ketika dia cukup percaya diri, ia meraih kecoa itu dengan jari-jarinya dan melemparkan nya keluar dari restoran.
Kejadian tersebut mungkin saja pernah kita alami, sehingga jika kita amati, apakah kecoa yang bertanggung jawab untuk perilaku heboh mereka?
Jika demikian, maka mengapa pelayan wanita tidak terganggu?
Kenapa wanita pengunjung sedemikian  panik, sementara wanita pelayan itu bisa dengan tenang mengusir kecoa?
Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan wanita pengunjung dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.
Kecoa memang menjijikkan.
Tapi ia akan tetap seperti itu selamanya.
Tak bisa kau ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan.
Begitupun juga dengan masalah.
Macet di jalanan, teman yang berkhianat, bos yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, target yang besar, deadline yang ketat, customer yang demanding, tetangga yang mengganggu, dsb.
Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan.
Tapi bukan itu yang membuat semuanya kacau.
Ketidakmampuan kita untuk menghadapi yang membuatnya demikian.
Yang mengganggu wanita itu bukanlah kecoa, tetapi ketidakmampuan wanita itu untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kecoa tersebut.
Reaksi kita terhadap masalah itulah yang sebenarnya lebih menciptakan kekacauan dalam hidup kita, melebihi dari masalah itu sendiri.
Apa kesimpulan kejadiannya?
Para wanita pengunjung *bereaksi*, sedangkan pelayan *merespon*.
Reaksi selalu naluriah sedangkan respon selalu dipikirkan baik-baik.
"Masalah adalah sebuah masalah ..... RESPONSE kita lah yg akan menentukan bagaimana akhir dari sebuah masalah ...."
Jadi, jangan beREAKSI, tapi mari MERESPON masalah....
Semoga bermanfaat.